Disclaimer, bangga pada diri sendiri adalah keharusan.
Cinta pada diri sendiri, sebelum berharap dicintai orang lain.
Akhir-akhir ini banyak sekali menguras emosi, merasa menjadi manusia yang tidak berguna, banyak salah, tidak mandiri bahkan menjadi manusia yang tak layak dicintai.
Tapi, seorang teman berkata "you are loved, orang lain belum tentu bisa jadi kamu".
Kemudian dia membeberkan kisah hidpuku yang pernah ku ceritakan, dia meneteskan air matanya dan ku susul dengan air mata yang tak sanggup lagi terbendung "kalo aku jadi kamu, belum tentu aku kuat" katanya sambil mengusap air mata.
Potret ibu yang hilang sejak balita, takdir-takdir berat yang Tuhan turunkan, bahkan hampir kehilangan masa remaja.
Aku berpikir dan merenung semalaman, lagi-lagi sepenggal kata yang sudah ada dari dua tahun yang lalu aku tulis ulang "Bersandarlah pada pundak teman yang paaling nyaman, setelah sujudmu kepada-Nya kau selesaikan".
Kamu perlu mencintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain, gantungkan kebahagiaan setinggi langit pada diri sendiri jangan harap kebahagiaan itu datang dari orang lain. Bangga pada dirimu sendiri, siapa yang mau memuji, selain kamu sendiri?
Terima kasih Wittri, sudah kuat selama ini. Umur 3 sudah jadi piatu, tak kenal bagaimana sosok ibu dan gambarnya pun tak pernah tahu. Ayahku di takdirkan untuk kehilangan istrinya pada saat aku usia 3, kemudian ayah memilih menikah lagi karena aku masih sangat kecil saat itu, lagi pula hobiku ngompol. Tak terbayang jika ayah harus setiap hari "ngurusin ompol". Ayah adalah duda dari 3 anak dan aku adalah bungsu.
Istrinya, adalah pengganti ibuku. Bahkan aku kira dia memang ibuku. Lahir pada tanggal 31 Desember, cantik sekali parasnya, entah berapa banyak tenaga yang dia keluarkan untuk menyayangi 3 anak tirinya. Belum sempat aku membalas kebaikan itu, Tuhan berikan lagi takdir keji yang lagi-lagi aku tidak mengerti. Tuhan ambil sosok ibu untuk kedua kali dari hidpuku saat usiaku belum baligh. Ibu meninggalkan kami dan satu anak perempuannya hasil pernikahan dengan ayah yaitu Sinta Lestari.
Aku hanya sorang remaja kelas 2 SMP dan adiku adalah 1 SD, entah betapa keji takdir datang saat itu. Rasanya cukup aku dan kedua kakaku yang merasakan bagaimana pedihnya kehilangan ibu, adiku tidak perlu.
Kakak pertamaku (perempuan), mempunyai gangguan kejiwaan sejak aku belum masuk sekolah dasar, dukun manapun sudah Ayah usahakan, bahkan kakak harus keluar masuk RSJ Magelang dan Tuhan berikan kesembuhan. Saat itu, adalah aku anak usia 13 tahun yang setiap pagi bangun subuh melakukan perkerjaan ibu rumah tangga, mengurus kakaknya yang kadang kabur entah kemana dengan kondisi gangguan jiwa. Kami tinggal di sebuah desa yang jauh dari perkota, kanan kiri hutan, minim penerangan.
Aku pernah menjadi bahan bully seisi sekolah, kakaku pernah kabur dari rumah dan entah bagaimana dia ada di depan sekolahku. Tidakah ini berat? Seisi sekolah tahu, bahwa aku punya kakak dengan gangguan kejiwaan.
Belum lagi harus membiayai kuliah 5 tahun lamanya, sempat tersendat karena biaya. Tapi semuanya dilalui bukan?
Masa-masa sulit yang sudah aku lalui, terima kasih pada diri sendiri, sudah kuat dan bisa melewati hari-hari lelah. Tidak over react, bukan narsisme, tapi sesekali berterima kasihlah pada diri sendiri. Hidup gak melulu lihat kanan-kiri, atas-bawah.
Aku tidak menceritakan bagaimana detail kisah hidup selama 26 tahun dibumi ini, tidak perlu kasihan. Ini semua Takdir yang sudah ku terima dan aku jalani.
Jangan lupa, sanjung dirimu!