Rabu, 25 November 2020

Pemuda bernama Yusuf




Tepat, 5 hari yang lalu. Kubuka situs pertemanan bernama Facebook. Maksud hati ingin mengoreksi diri, melihat pesan yang pernah ku kirim padanya.


Seberapa angkuh kah aku, dan seberapa beracunnya diriku.

Ada satu hal yang menganggu mataku, aku tertuju pada pesan sejak 2018 yang entah kenapa tak pernah aku sadari ada yang mengirim pesan. Seseorang tidak berteman denganku di Facebook. 


Kubuka pesan tersebut. Ucapan ulangtahun, tepat pada 10 April 2018. Sayang sekali, tak terlihat pukul berapa dia mengirimkan pesan itu. Keyakinanku pukul 00:00.


Sungguh, aku masih ingat betul 2019 seseorang berpamitan "besok aku melepas masa lajangku, doakan aku dan dia bisa melewati segala guncang pernikahan" dan dengan angkuh aku berkata "nikah mah nikah aja, gak perlu pamit" 


Luput dari pengawasku, bahwa aku adalah orang yang tidak hanya keras kepala. Tetapi juga keras hati. 


Si "Cinta Monyet bagiku", dan bagi satu sisi lainnya adalah "aku cinta pertamanya". Masa SMA yang baginya sulit sekali melupakan bahwa kita pernah saling kenal, suka dan katakanlah cinta (monyet).


Ku cari lagi pesan lain yang pernah dia kirimkan, 2015 pernah asa ucapan ulangtahun yang sama. Bahkan sejak 2013.


"Kau terlalu sibuk memvalidasi diri bahwa dia adalah orang yang tepat dan terbaik untukmu. Tanpa sadar, bahwa diluar sana, ada orang lain yang sangat menginginkanmu. Diam, seperti tidak melakukan pergerakan, tetapi harapannya pernah setinggi Rinjani padamu"


Jangan hidup dalam harap yang tak pasti. 


Selasa, 03 November 2020

Kilas Balik Kehidupan




Disclaimer, bangga pada diri sendiri adalah keharusan. 
Cinta pada diri sendiri, sebelum berharap dicintai orang lain.


Akhir-akhir ini banyak sekali menguras emosi, merasa menjadi manusia yang tidak berguna, banyak salah, tidak mandiri bahkan menjadi manusia yang tak layak dicintai.

Tapi, seorang teman berkata "you are loved, orang lain belum tentu bisa jadi kamu".
Kemudian dia membeberkan kisah hidpuku yang pernah ku ceritakan, dia meneteskan air matanya dan ku susul dengan air mata yang tak sanggup lagi terbendung "kalo aku jadi kamu, belum tentu aku kuat" katanya sambil mengusap air mata.

Potret ibu yang hilang sejak balita, takdir-takdir berat yang Tuhan turunkan, bahkan hampir kehilangan masa remaja. 

Aku berpikir dan merenung semalaman, lagi-lagi sepenggal kata yang sudah ada dari dua tahun yang lalu aku tulis ulang "Bersandarlah pada pundak teman yang paaling nyaman, setelah sujudmu kepada-Nya kau selesaikan".

Kamu perlu mencintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain, gantungkan kebahagiaan setinggi langit pada diri sendiri jangan harap kebahagiaan itu datang dari orang lain. Bangga pada dirimu sendiri, siapa yang mau memuji, selain kamu sendiri?

Terima kasih Wittri, sudah kuat selama ini. Umur 3 sudah jadi piatu, tak kenal bagaimana sosok ibu dan gambarnya pun tak pernah tahu. Ayahku di takdirkan untuk kehilangan istrinya pada saat aku usia 3, kemudian ayah memilih menikah lagi karena aku masih sangat kecil saat itu, lagi pula hobiku ngompol. Tak terbayang jika ayah harus setiap hari "ngurusin ompol". Ayah adalah duda dari 3 anak dan aku adalah bungsu.

Istrinya, adalah pengganti ibuku. Bahkan aku kira dia memang ibuku. Lahir pada tanggal 31 Desember, cantik sekali parasnya, entah berapa banyak tenaga yang dia keluarkan untuk menyayangi 3 anak tirinya. Belum sempat aku membalas kebaikan itu, Tuhan berikan lagi takdir keji yang lagi-lagi aku tidak mengerti. Tuhan ambil sosok ibu untuk kedua kali dari hidpuku saat usiaku belum baligh. Ibu meninggalkan kami dan satu anak perempuannya hasil pernikahan dengan ayah yaitu Sinta Lestari. 

Aku hanya sorang remaja kelas 2 SMP dan adiku adalah 1 SD, entah betapa keji takdir datang saat itu. Rasanya cukup aku dan kedua kakaku yang merasakan bagaimana pedihnya kehilangan ibu, adiku tidak perlu. 

Kakak pertamaku (perempuan), mempunyai gangguan kejiwaan sejak aku belum masuk sekolah dasar, dukun manapun sudah Ayah usahakan, bahkan kakak harus keluar masuk RSJ Magelang dan Tuhan berikan kesembuhan. Saat itu, adalah aku anak usia 13 tahun yang setiap pagi bangun subuh melakukan perkerjaan ibu rumah tangga, mengurus kakaknya yang kadang kabur entah kemana dengan kondisi gangguan jiwa. Kami tinggal di sebuah desa yang jauh dari perkota, kanan kiri hutan, minim penerangan. 

Aku pernah menjadi bahan bully seisi sekolah, kakaku pernah kabur dari rumah dan entah bagaimana dia ada di depan sekolahku. Tidakah ini berat? Seisi sekolah tahu, bahwa aku punya kakak dengan gangguan kejiwaan.

Belum lagi harus membiayai kuliah 5 tahun lamanya, sempat tersendat karena biaya. Tapi semuanya dilalui bukan?

Masa-masa sulit yang sudah aku lalui, terima kasih pada diri sendiri, sudah kuat dan bisa melewati hari-hari lelah. Tidak over react, bukan narsisme, tapi sesekali berterima kasihlah pada diri sendiri. Hidup gak melulu lihat kanan-kiri, atas-bawah. 

Aku tidak menceritakan bagaimana detail kisah hidup selama 26 tahun dibumi ini, tidak perlu kasihan. Ini semua Takdir yang sudah ku terima dan aku jalani. 

Jangan lupa, sanjung dirimu!

Senin, 19 Oktober 2020

Sampai jumpa lain waktu

 



Aku menemukan diriku

Setelah di cabik-cabik rasa rindu

Langitpun tak juga biru

Kau adalah rumahku


Berkelanalah sejauh kau mau

Kelak kau temui aku yang baru

Mungkin nanti di lain waktu

Bersama lagi kita akan memadu


Sayup burung perkutut menggoda



"kau terlalu lama menyadari hal itu" 

Aku diam tanpa mengelak

Aku telah kalah telak


Hati-hati di perjalanan

Semoga kita berjumpa 

Dengan isi hati yang tetap sama

Begitu juga porsinya



Sore hari 15:02

Tertanda,


Penyesalan


Minggu, 18 Oktober 2020

Malam ini

 


Hari ini aku melihat senyum, yang sudah lama sekali tak kulihat. 
Pipimu merekah, sudut bibirmu indah. 

Aku lupa kapan terakhir kali pemandangan tersebut kulihat. 
Terlalu lama, larut dalam kemarahan. 

Sebentar, aku coba mengingatnya. 
Ohhh Pujaan!!!
Aku melihat senyum itu saat kau menggenggam tanganku di sela lampu merah Ragunan. 
Kau tersipu malu, kau berikan seyuman paling tulus kala itu. 

Tapi aku bukan pemilik senyuman itu lagi, 
Dia dirampas pergi oleh amarah dan keegoisan. 
Dia hilang perlahan karena ketidakdewasaan gagal tumbuh dengan sempurna pada tubuh seorang manusia.

Tidak apa, walaupun aku bukan lagi pemiliknya.
Aku cukup senang dalam ketidakwarasan.




Malam dingin menusuk tulang, 
19 Oktober 2020 

 

Senin, 12 Oktober 2020

Carut Marut

 

 Malam hari ini, tepat jam 8. Sudah rebah tubuhku diatas kasur yang tidak terlalu empuk. Berandai bisa tidur cepat dan esoknya akan segar bugar.

Satu bulan lebih, pikiranku selalu terganggu. Oleh langit yang seakan runtuh dari jauh dan menghantam kepalaku, atau seperti tergulung ombak dilautan lepas. 

Manusia telampau angkuh untuk sadar diri, terlalu lambat membaca sebuah gerak, terlalu menganggap remeh sesuatu. 

Anggap saja disini adalah buku diary, kamu bisa bebas tuangkan apapun perasaanmu.

Kenapa harus menjadi marah jika sebetulnya itu tidak terlalu perlu? Bulu kuduku bangkit, saat membaca history percakapan melalui pesan Whatsapp. Kalau saja dia geleng-geleng kepala, kamu bagaimana? Tidak sanggup rasanya membaca pesan itu, seperti iblis, seperti kesetaanan, seperti mahluk yang tak berakal. 

Mengapa begitu kejam menuangkan perasaan kepada seseorang yang dianggap sayang, cinta bahkan belahan jiwa. 

Lambat menyadari, sungguh itu semua laku yang tidak baik.

Pengharapan pada satu kesempatan terakhir, jadikanlah ini semua pelajaran paling baik dalam hidupmu. 

Ditinggalkan orang terkasih tidak enak bukan? Jika, suatu saat datang masa itu. Jadilah baik, jadilah sabar, jadilah penyayang. 

Nikmatilah masa-masa muram saat ini. Esok akan datang lagi. 

 

 

Jumat, 09 Oktober 2020

 



Riuh, gaduh, lantang suara demo Jakarta 8 Oktober 2020.
Menolak RUU Omnibus Law
Ahhh.. kita tidak mau bicara soal pemerintah
Ini untuk hati yang harinya mulai sepi karena ditinggal pergi.

Kadang kala, manusia lambat menyadari, 
betapa nestapanya ditinggal pergi.
Selalu, penyesalan datang belakangan, tanpa tujuan.

Mengalun, laun, tak kembali.
Berirama sendu, bertatap rindu.
Amarah yang tak terbendung, buat dia berlalu.

Hujan selalu jadi waktu yang tepat, untuk bersedih ria
Malam hari lebih menjadi-jadi. 
Belakangan ini, tak bisa konsentrasi.

Tak ada yang bisa melawan laju kegelisahan
Kerinduan bahkan hanya menjadi beban
Bukan lagi sebuah keindahan

Dimana akan kutemui asa?




                                            Selepas hujan deras,
                                                  Jakarta, 9 Oktober 2020








Malam ini

  Hari ini aku melihat senyum, yang sudah lama sekali tak kulihat.  Pipimu merekah, sudut bibirmu indah.  Aku lupa kapan terakhir kali peman...