Senin, 19 Oktober 2020

Sampai jumpa lain waktu

 



Aku menemukan diriku

Setelah di cabik-cabik rasa rindu

Langitpun tak juga biru

Kau adalah rumahku


Berkelanalah sejauh kau mau

Kelak kau temui aku yang baru

Mungkin nanti di lain waktu

Bersama lagi kita akan memadu


Sayup burung perkutut menggoda



"kau terlalu lama menyadari hal itu" 

Aku diam tanpa mengelak

Aku telah kalah telak


Hati-hati di perjalanan

Semoga kita berjumpa 

Dengan isi hati yang tetap sama

Begitu juga porsinya



Sore hari 15:02

Tertanda,


Penyesalan


Minggu, 18 Oktober 2020

Malam ini

 


Hari ini aku melihat senyum, yang sudah lama sekali tak kulihat. 
Pipimu merekah, sudut bibirmu indah. 

Aku lupa kapan terakhir kali pemandangan tersebut kulihat. 
Terlalu lama, larut dalam kemarahan. 

Sebentar, aku coba mengingatnya. 
Ohhh Pujaan!!!
Aku melihat senyum itu saat kau menggenggam tanganku di sela lampu merah Ragunan. 
Kau tersipu malu, kau berikan seyuman paling tulus kala itu. 

Tapi aku bukan pemilik senyuman itu lagi, 
Dia dirampas pergi oleh amarah dan keegoisan. 
Dia hilang perlahan karena ketidakdewasaan gagal tumbuh dengan sempurna pada tubuh seorang manusia.

Tidak apa, walaupun aku bukan lagi pemiliknya.
Aku cukup senang dalam ketidakwarasan.




Malam dingin menusuk tulang, 
19 Oktober 2020 

 

Senin, 12 Oktober 2020

Carut Marut

 

 Malam hari ini, tepat jam 8. Sudah rebah tubuhku diatas kasur yang tidak terlalu empuk. Berandai bisa tidur cepat dan esoknya akan segar bugar.

Satu bulan lebih, pikiranku selalu terganggu. Oleh langit yang seakan runtuh dari jauh dan menghantam kepalaku, atau seperti tergulung ombak dilautan lepas. 

Manusia telampau angkuh untuk sadar diri, terlalu lambat membaca sebuah gerak, terlalu menganggap remeh sesuatu. 

Anggap saja disini adalah buku diary, kamu bisa bebas tuangkan apapun perasaanmu.

Kenapa harus menjadi marah jika sebetulnya itu tidak terlalu perlu? Bulu kuduku bangkit, saat membaca history percakapan melalui pesan Whatsapp. Kalau saja dia geleng-geleng kepala, kamu bagaimana? Tidak sanggup rasanya membaca pesan itu, seperti iblis, seperti kesetaanan, seperti mahluk yang tak berakal. 

Mengapa begitu kejam menuangkan perasaan kepada seseorang yang dianggap sayang, cinta bahkan belahan jiwa. 

Lambat menyadari, sungguh itu semua laku yang tidak baik.

Pengharapan pada satu kesempatan terakhir, jadikanlah ini semua pelajaran paling baik dalam hidupmu. 

Ditinggalkan orang terkasih tidak enak bukan? Jika, suatu saat datang masa itu. Jadilah baik, jadilah sabar, jadilah penyayang. 

Nikmatilah masa-masa muram saat ini. Esok akan datang lagi. 

 

 

Jumat, 09 Oktober 2020

 



Riuh, gaduh, lantang suara demo Jakarta 8 Oktober 2020.
Menolak RUU Omnibus Law
Ahhh.. kita tidak mau bicara soal pemerintah
Ini untuk hati yang harinya mulai sepi karena ditinggal pergi.

Kadang kala, manusia lambat menyadari, 
betapa nestapanya ditinggal pergi.
Selalu, penyesalan datang belakangan, tanpa tujuan.

Mengalun, laun, tak kembali.
Berirama sendu, bertatap rindu.
Amarah yang tak terbendung, buat dia berlalu.

Hujan selalu jadi waktu yang tepat, untuk bersedih ria
Malam hari lebih menjadi-jadi. 
Belakangan ini, tak bisa konsentrasi.

Tak ada yang bisa melawan laju kegelisahan
Kerinduan bahkan hanya menjadi beban
Bukan lagi sebuah keindahan

Dimana akan kutemui asa?




                                            Selepas hujan deras,
                                                  Jakarta, 9 Oktober 2020








Malam ini

  Hari ini aku melihat senyum, yang sudah lama sekali tak kulihat.  Pipimu merekah, sudut bibirmu indah.  Aku lupa kapan terakhir kali peman...